Pusat Investasi Pemerintah Memberi Pelatihan Literasi Digital untuk Pelaku Usaha Mikro

Sudah hampir 7bulan kita hidup berdampingan dengan virus covid-19. Ya sejak awal Maret dimana kasus pasien 01 diumumkan, pasien 01 yang tinggal di daerah asal saya Depok. 




Awal atau hari pertama mendengar berita itu suami saya langsung WA saya mengingatkan agar tidak mengajak anak-anak jalan ke Mall dulu. Ya tidak selalu menunggu weekend  terkadang saya suka mengajak anak ke Mall walau weekday  sepulang anak-anak dari sekolah. Kadang hanya sekedar makan berempat di Mall.

Tapi sudah hampir 7 bulan ini kita sekeluarga diam dirumah saja, walau harus keluar biasanya saya hanya keluar untuk berbelanja tanpa mengajak anak-anak. Biasanya seminggu sekali saat suami saya libur. 

Pandemi ini benar-benar mengubah kehidupan, bukan hanya perilaku yang berubah. Karena ada virus covid-19 masyarakat diharapkan dapat menerapkan protokol kesehatan saat keluar rumah  seperti memakai masker saat keluar rumah, membawa hand sanitizer, hand wash, menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain, cuci kaki dan tangan sebelum masuk rumah, langsung mandi dan mencuci baju saat sampai rumah. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan virus covid-19 di  sekitar  kita terutama lingkungan keluarga kita dulu karena setiap hari kita kontak dengan keluarga dirumah.

Dengan keribetan protokol itu jujur saja membuat saya malas keluar rumah, hanya benar-benar pergi kalau penting saja seminggu sekali misalnya ke ATM atau berbelanja mingguan. 

Kita semua merasakan kalau cobaan pandemi ini sangatlah berdampak terutama di sektor perekonomian. Perekonomian terdampak disemua kalangan, bukan hanya masyarakat bawah tapi juga kelas atas. 

Bukan hanya dipusat perbelanjaan yang berkurang jumlah konsumennya tapi juga usaha rumahan (UMKM). Banyak pengusaha yang mengurangi jumlah karyawan karena usaha nya sepi pembeli atau bahkan sampai harus menutup usahanya. Sedih sekali ya.

Banyak pegawai yang akhirnya terkena PHK karena pengusaha melakukan pengurangan karyawan atau bahkan menutup usaha, jangankan usaha mikro bahkan perusahaan besar dunia pun banyak yang berhenti beroperasi. 

Sempat ada kekhawatiran apakah akan terjadi resesi karena perekonomian tidak berjalan dengan baik😢 tapi semoga itu tidak terjadi ya.

Minggu kemarin mulai tanggal 14 September 2020 Jakarta kembali menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) demi mencegah penyebaran virus yang menyebabkan kenaikan kasus positif di DKI Jakarta yang mencapai 1000 kasus baru setiap hari nya.

Diterapkan kembali PSBB sangatlah mempengaruhi para pelaku usaha mikro, walau ini harus tetap dilakukan. Serba salah memang keadaan sekarang. 

Pemerintah saat ini sedang melakukan berbagai langkah untuk memastikan agar kehidupan sosial dan ekonomi dapat terus berjalan. Salah satunya melalui PIP (Pusat Investasi Pemerintah) yang ingin memberikan pelatihan literasi digital bagi para pelaku usaha mikro agar mereka dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Saat ini masyarakat beraktifitas dari rumah, karyawan bekerja dari rumah, anak sekolah pun sekolah dari rumah. Semua hampir dilakukan dari rumah sebisa mungkin, bahkan belanja kebutuhan pokok online pun meningkat.  Masyarakat sudah beralih melakukan aktifitas dengan online bukan hanya untuk bekerja dan sekolah tapi juga untuk berbelanja. Saat ini semua kebutuhan seharusnya bisa kita cari dan beli online dari rumah.

Oleh karena itu Pusat Investasi Pemerintah Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan memberikan pengetahuan dan pelatihan literasi digital bagi para pelaku usaha mikro agar dapat transisi bisnis dari penjualan konvensional ke digital, yang diharapkan akan dapat membantu pelaku usaha mikro untuk menjangkau pembeli yang selama ini tidak tergarap.

Apa itu Pusat Investasi Pemerintah?

Sebelumnya kita kenalan dulu dengan Pusat Investasi Pemerintah (PIP) yang merupakan unit organisasi non eselon di bidang pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Menteri  Keuangan melalui Direktur Jenderal Perbendaharaan. 

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, PIP menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU).

Sebagai BLU, PIP melaksanakan koordinasi dana (coordinated  fund) pembiayaan Ultra Mikro (UMi) dengan memberikan fasilitas maksimal Rp.10juta kepada debitur yang selama ini tidak dapat mengakses pembiayaan perbankan dan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Untuk memudahkan dan mempercepat penyaluran, Umi disalurkan melalui Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) dengan pola langsung (one step) atau two step melalui linkage koperasi/ lembaga keuangan mikro. 

Lembaga yang menyalurkan pembiayaan Umi antara lain adalah PT Pegadaian (Persero), PT Bahana Artha Ventura, serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Sumber pendanaan nya berasal dari APBN, hibah serta kerjasama  pendanaan dan investasi.

Pelatihan Literasi Digital untuk Pelaku Usaha Mikro


Direktur Utama Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Ririn Kadariyah pada media talkshow via daring tanggal 17 September 2020 lalu membahas tentang sosialisasi program pelatihan dan pendampingan UMi siap online. Beliau menuturkan denga beralih ke online/digital para debitur Ultra Mikro nantinya dapat menjangkau calon pembeli yang tidak dapat datang langsung ke tempat usahanya dan memperluas pasar pelaku usaha mikro.

Namun saat ini banyak kendala yang dihadapi para pelaku usaha mikro untuk beralih dalam memasarkan produk secara digital, seperti kurangnya pengetahuan para pelaku usaha dalam menggunakan sosial media secara maksimal, baik dari sisi foto produk yang kurang menarik, penulisan caption yang mengundang rasa ingin tahu pembeli, perluasannya jangkauan calon pembeli dan masih banyak lagi.

PIP sebagai penyalur  pembiayaan UMi mencari jalan keluar terhadap kendala para pelaku usaha mikro agar siap terjun ke dunia digital. Perubahan penjualan melalui dunia digital adalah bentuk adaptasi kebiasaan baru bagi para UMKM di Indonesia. Kalau para pelaku usaha mikro gagal beradaptasi dengan kondisi saat ini maka target penyaluran dan penyebaran pembiayaan Umi akan terhambat juga.

Program ini dilakukan Pemerintah yang menyadari apabila terhambatnya debitur UMi untuk berkembang maka akan meningkatkan jumlah penduduk yang terjebak dalam garis kemiskinan dan menggeser kelompok tersebut menjadi masyarakat yang tergantung pada bansos (bantuan sosial).

Dias Satria , Founder Jagoan Indonesia mengatakan ada 3 hal yang mereka (pelaku usaha mikro) harusa kembangkan yaitu:

  • Social  Media Handling , para peserta akan diberi pelatihan untuk melakukan penetrasi pemasaran melalui social media Instagram dan menawarkan produk mereka di market place.
  • Connecting to marketplace, tim mentor akan memfasilitasi dan mengoptimalisasi pembuatan akun marketplace, google Business dll.
  • Design packing. Membuat desain kemasan agar lebih menarik dan menunjang penampilan produk sehingga bagus dijual melalui penjualan online.
Syarat untuk gabung dalam program pelatihan

  • Pelaku usaha mikro yang mendapat pembiayaan (Ultra Mikro) UMi melalui penyalurnya.
  • Memiliki usaha yang produktif.
  • Memiliki komitmen dan keinginan belajar yang tinggi.
Adalah satu pelaku usaha mikro Rofik Purniawati, Rofikves pemasok jamur putih Semarang pun mengatakan kalau tidak mudah mengikuti kegiatan ini karena ini adalah hal baru baginya tetapi dia menyadari untuk maju diperlukan kemauan untuk belajar. Agar usaha nya dapat lebih maju dan dapat menjangkau pasar yang lebih luas. 

Direktur Utama Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Ririn Kadariyah menuturkan lebih dari separuh (54%) penerima manfaat kredit Umi mengambil pinjaman senilai Rp. 2,5 juta dengan mayoritas (89%) tenor pinjaman yang diambil adalah antara 7 bulan hingga 1 tahun. Sementara pelaku usaha mikro yang memanfaatkan Umi sebagian besar adalah perempuan (93%) dengan usia diatas 40 tahun (58%). Melalui kredit Umi diharapkan terjadi kemandirian usaha di seluruh masyarakat.

Semoga dengan adanya pelatihan untuk pelaku usaha mikro diharapkan kedepannya perekonomian dalam negeri dapat tetap berjalan dengan baik. Dan untuk konsumen diharapkan kesadaran untuk memilih membeli produk dalam negeri karya anak bangsa. Semoga program pelatihan digital ini sukses.

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

5 comments:

  1. Ini yang dibutuhkan rakyat indonesia saat ini disaat pandemi yang berkepanjangan

    ReplyDelete
  2. Bagus banget nih fril programnya jadi pengen daftar deh jadi pesertanya.. otw ke ignya ahh buat ceki2.. thanks infonya fril

    ReplyDelete
  3. PIP sangat ngebantu banget buat pelaku usaha disaat keadaan ekonomi lesu efek pandemi skrg ini

    ReplyDelete
  4. nah yg kayak gini ya yang beneran bisa ngebantu pelaku usaha mikro, jadi bisa berkembang juga kalau dibekali pelatihan yang kayak gini

    ReplyDelete
  5. Kebetulan gw pelaku usaha mikro kepengen juaga sih aslinya ikutan pelatihan kek gini. Bener2 sekarang lagi jauh banget pendapatan ama sebelum pandemi 😔

    ReplyDelete