Praktek Pola Hidup Sehat dan Deteksi Dini Untuk Cegah Kanker

Kanker adalah penyakit tidak menular akibat pembelahan sel abnormal yang bersifat ganas, tumbuh cepat tidak terkendali dan dapat menyerang jaringan di sekitarnya.



Kanker adalah salah satu penyakit yang menakutkan bagi saya pribadi, karena waktu itu tetangga sebelah rumah saya persis menderita penyakit kanker payudara. Beliau mempunyai dua anak, yg satu sudah sekolah SD yg satu masih balita.

Anak yang masih kecil dan masih sangat membutuhkan perhatian ibu. Tapi tidak bisa terpenuhi karena sang ibu berjuang melawan penyakit kanker, mulai dari pengobatan, kemoterapi dan operasi pengangkatan payudara. Bukan hanya waktu juga biaya sampai habis-habisan yang dikeluarkan untuk pengobatan.

Bukan untuk menyembuhkan tapi hanya memperpanjang waktu hidup penderita, well ya itulah isi pikiran saya tentang penderita kanker. Rasanya mustahil untuk sembuh total karena suatu saat akan kambuh lagi begitu kita sudah pernah menderita kanker.

Sekarang beliau sudah almarhumah, sudah tenang disisinya dan dua anaknya pun sudah besar.

Penderita kanker akan terus bertambah jumlahnya


Kanker adalah penyakit tidak menular (PTM). Kanker merupakan penyakit penyebab kematian kedua terbesar di dunia. Lebih dari 18juta orang terdiagnosis kanker dan 9,6 juta orang di dunia meninggal karena kanker setiap tahunnya. Artinya setiap 2 detik ada 1 orang yang terdiagnosis kanker dan setiap 3 detik ada 1 orang meninggal dunia.

Dan jumlahnya diperkirakan akan terus meningkat menjadi 1 orang terdiagnosis kanker setiap detik dan 1 orang meninggal karena kanker setiap 2 detik pada tahun 2040 nanti. Dan sekitar 70% kematian akibat kanker terjadi pada negara berkembang.

Data WHO (Globocan 2018) menyebutkan terdapat sekitar 348.809 kasus baru kanker dan angka kematian akibat kanker mencapai 207.210 di Indonesia. Hal ini disebabkan karena 65% pasien kanker datang ke dokter atau terdeteksi saat stadium sudah lanjut.

Seperti yang saya bilang di atas penanganan lebih bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup, mengontrol kanker, mencegah penyebaran. Dan ini bertujuan memperpanjang umur pasien kanker.

Pola Hidup Sehat Untuk Cegah Kanker


Tahukah kalian menurut data BPJS penyakit kanker menghabiskan dana anggaran terbesar kedua sebesar 3,4 triliun setelah penyakit jantung.

Padahal 43% dari seluruh kasus kanker bisa dicegah dengan mengurangi faktor resiko kanker seperti:
  • Menghindari paparan asap rokok dan produk tembakau.
  • Tidak konsumsi alkohol.
  • Memproteksi kulit dari paparan sinar ultraviolet.
  • Diet seimbang, tinggi serat, batasi asupan GGL (gula, garam, lemak).
  • Hindari makanan yang mengandung zat-zat kimia 6P: penyedap, pewarna, perasa, pengawet, pengasinan, pengasapan.
  • Perbanyak aktivitas fisik.
  • Pencegahan infeksi yang berhubungan dengan kanker.
Intinya adalah praktekan pola hidup sehat untuk terhindar dari penyakit kanker dan juga penyakit PTM lainnya.

I am and I will (Saya adalah dan saya akan)


Pada tanggal 4 Februari 2020 yang lalu saya bersama rekan blogger memperingati Hari Kanker Sedunia di Manhattan Hotel Kuningan Jakarta Selatan yang diselenggarakan Kemenkes. 

Dengan narasumber Direktur P2PTM dr. Cut Putri Arianie, MHKes Prof dan Dr.dr Soehartati A Gondhowiardjo, Sp.Rad (K) OnkRad.


Penetapan tanggal ini awalnya berdasarkan Piagam Paris (Charter of Paris), tanggal 4 Februari 2000 pada pertemuan World Summit Against Cancer for the New Millenium.

Sejak tahun 2006 hari kanker sedunia diselenggarakan di seluruh dunia untuk mengkampanyekan perang melawan kanker secara global.

Kita semua harus aware dengan penyakit kanker ini. Tema Hari Kanker Sedunia 2019-2021 yaitu I am and I will dimana mengajak masyarakat untuk menjalankan perannya masing-masing dalam rangka  mengurangi beban akibat kanker.

Ketahui jenis kanker yang ada (kanker paru, kolorektal, prostat, hati, nasopharing, payudara, leher rahim, ovarium, bola mata dan kanker darah).

Ketahui berbagai gejala kanker yang perlu diperhatikan dan diperiksakan ke dokter seperti: 
  • Waktu buang air besar atau kecil dan perubahan atau gangguan.
  • Alat pencernaan terganggu dan susah menelan.
  • Suara serak atau batuk yang tak sembuh-sembuh.
  • Payudara atau di tempat lain ada benjolan (tumor)
  • Andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifatnya menjadi besar dan gatal.
  • Darah atau lendir yang abnormal keluar dari tubuh.
  • Adanya koreng atau borok yang tidak mau sembuh-sembuh.

Deteksi Dini


Pencegahan penyakit kanker adalah dengan menerapkan pola hidup sehat dan juga deteksi dini. Deteksi dini sangat penting dilakukan untuk penanganan yang lebih cepat dan tepat.

Data kanker tahun 2018 di Indonesia terbanyak diderita wanita yaitu kanker payudara dan kanker leher rahim. 

Kanker payudara dan kanker leher rahim bisa diobati dengan cepat apabila kita melakukan deteksi dini secara rutin.

Kanker payudara


Kanker payudara di Indonesia merupakan jenis kanker terbanyak dengan jumlah kasus baru sebesar 42,1 per 100.000 penduduk. Sedangkan kematian akibat kanker payudara sebesar 17 per 100.000 penduduk.

Kanker payudara ditandai dengan munculnya benjolan atau penebalan pada jaringan kulit payudara.

Tanda-tanda yang perlu diperhatikan mengenai kanker payudara adalah sebagai berikut:

  • Teraba benjolan di payudara dan seringkali tidak berasa nyeri.
  • Terdapat perubahan tekstur kulit payudara.
  • Kulit payudara mengeras dengan permukaan seperti kulit jeruk.
  • Terdapat luka yang tak kunjung sembuh.
  • Keluar cairan dari puting.
  • Terdapat cekungan ataupun tarikan di kulit payudara.
Beberapa faktor resiko kanker payudara adalah sebagai berikut:
  • Usia haid pertama di bawah 12 tahun.
  • Wanita tidak menikah.
  • Wanita tidak memiliki anak.
  • Melahirkan anak pertama pada usia 30 tahun.
  • Tidak menyusui.
  • Menggunakan kontrasepsi hormonal dan atau mendapat terapi hormonal dalam waktu yang cukup lama.
  • Usia menopause lebih dari 55 tahun.
  • Pernah operasi tumor jinak payudara.
  • Ada riwayat kanker dalam keluarga.
  • Wanita yang mengalami stres berat.
  • Konsumsi lemak dan alkohol secara berlebihan.
  • Perokok aktif dan pasif.
Gejala kanker payudara bisa  dideteksi dengan pemeriksaan SADARI dan SADANIS.

SADARI (payudara sendiri) bertujuan untuk menemukan benjolan dan tanda-tanda lain pada payudara sedini mungkin. Dapat dilakukan setiap bulan pada hari ke 7 sampai ke 10 yang dihitung dari mulai haid hari pertama atau pada tanggal yang sama bagi yang sudah menopause.

SADANIS (pemerikasaan payudara klinis) oleh tenaga kesehatan. SADANIS dapat mendeteksi sampai 85% kanker payudara, dianjurkan 3tahun sekali untuk wanita usia 20-30 tahun. Dan 1 tahun sekali untuk wanita usia di atas 40 tahun.

Metode SADANIS dapat dilakukan di Puskesmas/ fasilitas pelayanan kesehatan yang terlatih yang mempunyai petugas kesehatan yang kompeten serta memiliki sarana dan prasarana seperti Bidan Desa, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Dokter, Bidan praktek mandiri, RS, dan Rumah Bersalin.

Kanker Leher Rahim


Kanker leher rahim merupakan kanker kedua terbanyak di Indonesia, dengan kasus baru sebesar 23,4 per 100.000 penduduk. Setiap 1jam 2 orang wanita meninggal karena kanker leher rahim. Dan di dunia setiap 2 menit 1 orang meninggal.

Kanker leher rahim disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Untuk mencegah kanker leher rahim bisa dengan melakukan vaksinasi HPV, tidak melakukan hubungan seksual pada usia dini (kurang dari 20 tahun), tidak berganti-ganti pasangan seksual, menghindari asap rokok (aktif dan pasif).

Gejala kanker leher rahim pada stadium lanjut:

  • Haid tidak teratur.
  • Nyeri panggul.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Keputihan atau keluar cairan encer putih kekuningan terkadang bercampur darah seperti nanah.
  • Pendarahan spontan tidak pada masa haid/diantara menstruasi.
  • Pendarahan pada masa menopause.
Gejala kanker leher rahim pada stadium dini seringkali tidak menunjukkan gejala yang khas, oleh karena itu pentingnya melakukan deteksi dini terutama oleh wanita yang sudah melakukan hubungan seksual terutama pada usia 30-50 tahun.

Deteksi dini dengan metode pap smear atau IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetant) yang bertujuan untuk menemukan lesi prakanker dan mengetahui adanya perubahan sel dapat di leher rahim.

Melakukan IVA mudah dan cepat dan hasilnya dapat diketahui langsung. Tidak memerlukan sarana laboratorium dan dapat dilaksanakan di Puskesmas bahkan mobil keliling yang dilakukan oleh dokter umum dan bidan. 

Cakupan deteksi dini dengan IVA minimal 80% selama 5 tahun akan menurunkan insidens kanker leher rahim secara signifikan. Skrining kanker leher rahim dengan frekuensi 5 tahun sekali dapat menurunkan kasus kanker leher rahim 83,6%.

Oleh karena itu penting sekali melakukan deteksi dini untuk mengurangi kematian akibat kanker di masa mendatang. 

Deteksi dini kanker payudara dan leher rahim sudah bisa dilakukan di Puskesmas terdekat dari rumah. Dan bisa menggunakan fasilitas BPJS. 

Pemerintah melalui Kemenkes terus menyediakan fasilitas untuk seluruh daerah agar lebih memudahkan masyarakat agar bisa dengan mudah melakukan pemeriksaan dini (deteksi dini).

Yuk mulai saat ini juga praktekan pola hidup sehat dan deteksi dini sedini mungkin untuk mencegah penyakit kanker. 

Agar tujuan mengurangi kematian akibat kanker sebanyak 25% di tahun 2025 dapat tercapai.




Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 comments:

Post a Comment