Jaga Kesehatan Dimulai dengan Cara Menjaga Kebersihan Lingkungan dan Mengelola Sampah

Sering bingung karena anak-anak mudah banget sakit, mudah banget tertular batuk pilek. Padahal untuk memperkuat imunitas tubuhnya saya sudah melakukan berbagai cara seperti, menjaga agar anak mengkonsumsi makanan yang sehat, memastikan anak cukup istirahat, tidak jajan sembarangan diluar, cukup minum air putih, juga minum vitamin.

Sampai saya tercerahkan saat beberapa waktu lalu melihat postingan di akun Instagram seorang dokter, kalau cuaca ekstrem ini juga berperan dalam mudahnya anak-anak kita terserang penyakit. Memang saya dan pastinya pembaca blog ini juga menyadari kalau bumi sudah dilanda cuaca ekstrem.

Pada siang hari suhu udara panas sekali, sampai panasnya menyengat di kulit, lalu sore hari hujan deras. Perubahan cuaca yang ekstrem ini menjadi salah satu penyebab anak-anak dan bahkan orang dewasa sekarang jadi mudah sakit.

Cuaca ekstrem ini disebabkan banyak faktor, dan aktifitas manusia turut andil didalamnya. Aktifitas manusia diantaranya adalah penggunaan bahan bakar, efek rumah kaca, dan tidak bersihnya lingkungan. Dan ini akan berdampak pada iklim global, yang menyebabkan terjadinya cuaca ekstrem. Hal ini juga pasti sudah dipelajari saat saya dan pembaca masih berada di bangku sekolah bukan. 

Untuk mengatasi cuaca ektrem ini sebenarnya kita bisa berkontribusi dengan berbagai cara, seperti memakai transportasi umum saat bepergian dan membersihkan lingkungan dari sampah. Bahkan ibu-ibu rumah tangga seperti saya, bisa berperan aktif mengatasi cuaca ektrem ini juga, dimulai dari rumah, dimulai dari membersihkan lingkungan.

Permasalahan sampah itu bukan hanya sekedar membuang sampah ke tong sampah, lalu sampah diangkut petugas kebersihan sampah ya Bu. Sampah yang dibiarkan menumpuk di TPA ini akan membuat permasalahan baru bagi penduduk disekitarnya. Seperti bau yang tidak sedap, dan bahkan dapat menimbulkan berbagai penyakit. 

Sumber Pixabay

Sampah sebaiknya dipilah dahulu sebelum dibuang, atau disalurkan ke bank-bank sampah yang banyak tersebar di dekat rumah saat ini. Saya tahu kalau memilah sampah ini bukan hal yang mudah, butuh kedisiplinan dan konsisten untuk terus melakukannya. Kalau sudah memulai belum tentu bisa konsisten melakukan hal ini terus-menerus.

Berbagai cara juga bisa dilakukan untuk mengurangi sampah, seperti mengurangi pemakaian plastik dan alat makan sekali pakai. Atau mengolah kembali sampah agar bermanfaat kembali. Seperti membuat pupuk organik dari sampah sisa kulit sayur dan buah, membuat keset dari baju bekas dan masih banyak lagi.

Ibu - ibu pasti bisa deh mengolah dan memilah sampah demi berkontribusi menjaga lingkungan. Seperti Amilia Agustin yang menjadi penerima  SATU Indonesia Awards pada tahun 2010. Saat menerima penghargaan dari Astra, SATU Indonesia Awards, Amilia masih duduk di bangku sekolah lho. Karena kepeduliannya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar dia mendapat penghargaan ini.

Amilia mendapat julukan Ratu Sampah Sekolah dengan Mengubah Sampah Menjadi Berkah. Berawal dari kepeduliannya melihat timbunan sampah yang ada di Tempat Pembuangan Sampah Sementara Terpadu, TPST Tegallega, Bandung, yang lokasinya berdekatan dengan sekolahnya saat itu.

Niatnya yang tulus, ingin melakukan perubahan  dan mencari solusi untuk mengurangi timbunan sampah di TPST tersebut, membawanya ke program "Go to Zero Waste School" dan program ini yang membuatnya menerima penghargaan SATU Indonesia Awards dari Astra pada tahun 2010 lalu. Waktu itu Ami masih duduk di kelas 3 SMP Negeri 11, Bandung. 

Amilia tahu kalau sampah yang tertimbun berasal dari masyarakat sekitar termasuk sekolahnya. Ami beserta teman-temannya sebenarnya tidak tahu bagaimana cara mengolah sampah, ia meminta bantuan dari guru ekstrakurikuler sains club mereka Ibu Nia. 

Mereka diperkenalkan dengan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB). Ami memulai dengan belajar membuat kompos, memilah sampah dan membuat campaign di sekolah, dan membuat tempat sampah yang terpilah. Pada tahun itu sebagian besar masyarakat belum familiar dengan hal ini, mirisnya bisa dibilang masih masa bodoh dengan timbunan sampah.

Program "Go to Zero Waste School" adalah program yang bertujuan untuk merawat lingkungan. Merawat lingkungan itu bukan tugas orang dewasa saja tapi kita semua bertanggung jawab. 

Saat Amilia menjadi siswi kelas XII SMA Negeri 11 Bandung, Jawa Barat sangat aktif dengan berbagai kegiatan, seperti Kelompok Ilmiah Remaja, Matematika Club, Komunitas Sahabat Kota, Balad Kuring, Kebunku, serta Archipelago. Walau sudah aktif dengan berbagai kegiatan tapi masih peduli dengan lingkungan. Sama seperti kita ya ibu-ibu yang sudah sibuk mengurus rumah, anak dan keluarga juga masih bisa ikutan aktif menjaga lingkungan dengan memilah dan mengolah sampah. 

Amilia bersama teman-teman mengajukan proposal program Karya Ilmiah Remaja "Go to Zero Waste" kepada Program Young Changemakers dari Ashoka Indonesia. Program yang membuka peluang anak muda usia 12- 25 tahun mempraktekkan prinsip sosial entrepreneurship. Proposal Go to Zero Waste disetujui dengan biaya operasional Rp.2,5 juta. Program yang terus berkembang ini menjadi inspirasi bagi siswi-siswi sekolah lain di Bandung.

Proyek pengelolaan sampah ini terbagi ke empat bidang, yaitu pengelolaan sampah anorganik, pengelolaan sampah organik, pengelolaan sampah tetra pak dan pengelolaan sampah kertas. Sampah tersebut diolah menjadi tas dan pupuk kompos. 

Bukan hanya berjasa untuk lingkungan tapi Ami juga berjasa bagi masyarakat sekitar yang ekonominya menengah ke bawah. Hadiah yang diperoleh dari penghargaan dipergunakan untuk membeli komputer di sekolah dan alat jahit portabel untuk ibu-ibu di sekitar sekolah yang ekonominya menengah ke bawah. Amilia sudah mengajarkan masyarakat sekitar, ibu-ibu disana cara mendaur ulang sampah, membuat produk dari sampah, membuat desain produk yang menarik pembeli, dan menjajakannya di pameran serta online store. Uang yang dihasilkan bisa ditabung untuk biaya sekolah anaknya.

Saat sudah kuliah di Universitas Udayana, Ami masih tetap melanjutkan kegiatannya menyuarakan perubahan lingkungan dengan membentuk komunitas peduli lingkungan bernama "Udayana Green Community". Komunitas ini berkegiatan mengajar di Banjar, serta sejumlah SD dan SMP yang ada di kota Denpasar. Komunitas ini juga melatih warga-warga di desa melakukan pengolahan sampah terpadu, mengamalkan nilai Tri Hita Karana, menghormati Tuhan, manusia dan alam.

Sosok Amilia sudah menginspirasi banyak orang, dalam perannya menjaga lingkungan dan mengelola sampah. Dengan menjaga lingkungan berarti kita sudah turut serta berperan mengatasi cuaca ekstrem ini. Karena lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bersih dari sampah. Sehingga anak-anak generasi penerus bangsa ini dapat tumbuh dengan baik di lingkungan yang sehat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cha-Ching Kid$ At Home Belajar Konsep Keuangan dari Rumah Dengan Menyenangkan

Kluster Khaya Podomoro River View Hunian Mewah dan Berkelas di Selatan Jakarta adalah Investasi Properti yang Berlimpah Nilai Tambah

Tips Meredakan Gejala Perut Kembung dengan Motherlove Calming Cream